Penggunaan Gadget pada Anak harus dibatasi, waspadai resiko nya

Jika tidak digunakan dengan bijak, internet dapat membawa masalah. Salah satu dari mereka yang viral adalah gangguan kejiwaan pada anak -anak karena ketergantungan gadget di Jawa Barat.

Asosiasi Pemasok Layanan Internet Indonesia (APJII) menunjukkan, dari 264,14 juta orang di Indonesia, 171,71 juta di antaranya secara aktif terhubung dan menggunakan internet sepanjang 2018. Catatan lain, untuk kategori anak -anak dari 10 hingga 14 tahun,  mereka mencapai 66,2% sebagai asset Pengguna Internet.

Rumah Sakit Provinsi Jawa Barat sejak 2016 telah mengelola 209 pasien anak yang kecanduan gadget, dengan serangkaian kunjungan 2 hingga 3 pasien per minggu. Ini dikatakan oleh direktur umum rumah sakit jiwa provinsi Java Barat  Dr. Elly Marliani SPKJ, MKM.

“Dapat dikatakan ketika berita viral terkait dengan gangguan kejiwaan pada anak -anak karena ketergantungan gadget menyebar, rumah sakit provinsi Jawa Barat memiliki banyak pasien baru.

Banyak yang mengakui bahwa mereka baru saja menemukan bahwa di RS provinsi Jawa Barat di sana ada layanan untuk anak -anak dengan kecanduan gadget dan tanpa perlu kebutuhan akan psikiater, “kata Elly

Pahami kondisinya

Lina Budianti, seorang dokter sub -specialis kesehatan jiwa anak dan remaja, yang berpartisipasi dalam proses penyembuhan pasien anak -anak dengan ketergantungan gadget di rumah sakit provinsi Jawa Barat, mengatakan bahwa sebelum pasien diperiksa dan dirawat, pertama mereka Harus memahami kondisi mereka secara umum.

Seberapa sehat dan bijaksana saat menggunakan gadget sejauh ini?

Lina menjelaskan, para ahli menyarankan penggunaan gadget maksimal 2 jam per hari. Pengguna gadget juga harus mengingat peran dan tugas utama mereka dalam kehidupan nyata, tidak lalai karena penggunaan gadget yang berlebihan. Jangan biarkan ketergantungan pada gadget diikuti oleh efek samping, seperti lebih mudah pusing, tidak mudah berkonsentrasi, sehingga pola tidur terganggu.

Orang tua harus memahami efek samping ini, untuk melihat tanda atau kebiasaan yang berbeda pada bayi. Namun, Dr. Lina menekankan, jika orang tua merasa tidak dapat mengatasi anak -anak yang kecanduan gadget, lebih baik untuk segera menghubungi psikiater atau psikolog.

Agar tidak berdampak pada hal -hal yang lebih parah, seperti anak -anak yang depresi untuk bertindak agresif ketika dilarang penuh menggunakan gadget

Faktor risiko

Ada 3 faktor yang menjadikan anak -anak sebagai pecandu gadget: faktor internal, faktor eksternal dan faktor permainan pada gadget yang sama.

 

Faktor eksternal yang terkait dengan hubungan dan pengasuhan orang tua tidak baik; Faktor lingkungan di mana anak -anak tinggal, di mana banyak orang di sekitar anak -anak apatis ke lingkungan dan ditempati menggunakan gadget sepanjang waktu.

Faktor game mengacu pada genre game yang dapat memicu kecanduan.

Lina menjelaskan bahwa banyak investigasi menjelaskan bahwa game online dianggap lebih adiktif daripada game off -line. Dapat dikatakan bahwa game online adalah game akhir yang tidak terbatas, game tanpa akhir dengan meningkatnya tingkat kesulitan.

Permainan seperti itu tentu saja dapat memicu kecanduan pada anak -anak yang belum dapat berbagi emosi, konsentrasi, dan pikiran.

Gangguan kejiwaan pada anak -anak karena ketergantungan gadget dapat menyebabkan fungsi tubuh yang memburuk pada tahap parah.

Lina memberi contoh, dalam kasus pasien anak -anak dengan ketergantungan pada gadget di rumah sakit provinsi Jawa Barat, beberapa bahkan tidak ingin makan atau tidak ingin mandi, kapan saja mereka tidak bisa lepas dari gadget dan , dalam beberapa kasus, dalam beberapa kasus, yang merupakan anak yang lebih ekstrem untuk putus sekolah karena kecanduan gadget.

Leave a Reply

Your email address will not be published.